Demo Receh yang Menyadarkan: Ketika 12 Murid SD Protes Minta Sistem Tinggal Kelas Dikembalikan
Oleh Nurdin, putra kelahiran Reo, Manggarai, NTT, Tinggal di Makassar
Bayangkan skenario ini:
Seorang guru memanggil orang tua, bukan untuk mengeluh, tapi untuk berkata: “Pak/Bu, saya lihat anak Bapak/Ibu mulai tertinggal dalam membaca. Saya ingin kita bersama-sama membantu dia. Mungkin di rumah bisa disediakan waktu 15 menit setiap malam untuk membaca bersama. Di sekolah, saya akan beri perhatian ekstra. Bagaimana?”
Orang tua mana yang akan marah mendengar ajakan seperti itu?
Sebaliknya, jika orang tua hanya dipanggil saat anak sudah terlanjur bermasalah—nilai jeblok, tingkah laku berantakan, atau bahkan sudah dipanggil polisi—maka yang muncul adalah defensif. Guru jadi musuh. Sekolah jadi tersangka.
Guru bukan musuh, dan orang tua bukan pihak yang harus dicurigai. Jika keduanya duduk satu meja membahas perkembangan anak secara terbuka dan berkala, maka energi yang selama ini habis untuk memperbesar persoalan kecil bisa dialihkan untuk menyelesaikan persoalan yang jauh lebih mendasar: kemampuan dan karakter anak itu sendiri.

Pengalaman Pribadi: Ketika Menunda Justru Menyelamatkan