Demo Receh yang Menyadarkan: Ketika 12 Murid SD Protes Minta Sistem Tinggal Kelas Dikembalikan
Oleh Nurdin, putra kelahiran Reo, Manggarai, NTT, Tinggal di Makassar
Inilah pentingnya peran guru. Guru yang berani mengatakan “tunda dulu” adalah pahlawan. Guru yang berani memanggil orang tua untuk diskusi, bukan untuk menghakimi, adalah mitra sejati.
Saran Konstruktif: Bukan Sekadar Demo
Saya bukan menteri pendidikan. Saya cuma perantau yang baca berita sambil minum kopi. Tapi izinkan saya memberi usulan—receh mungkin, tapi berdasarkan pengalaman dan referensi:
1. Kembalikan sistem tinggal kelas secara terbatas. Tidak perlu massal. Tapi untuk kasus-kasus ekstrem: tidak bisa baca di kelas 4, tidak bisa hitung dasar di kelas 5, itu harus ada konsekuensi. Kasihan gurunya, kasihan juga anak itu sendiri kalau dipaksa naik terus.
2. Buat kelas khusus pendalaman atau program transisi. Terinspirasi dari pengalaman Keyla, mungkin kita perlu memberi ruang bagi anak yang belum siap secara kognitif untuk mendapatkan pendampingan ekstra, tanpa harus langsung “naik kelas” atau “tinggal kelas” secara kaku.
3. Libatkan orang tua secara proaktif dan preventif. Jangan tunggu masalah membesar. Undang orang tua sejak awal tahun ajaran untuk membangun kesepakatan bersama. Adakan pertemuan rutin yang membahas perkembangan akademik, bukan hanya saat pembagian rapor. Bangun kemitraan, bukan kecurigaan.