Demo Receh yang Menyadarkan: Ketika 12 Murid SD Protes Minta Sistem Tinggal Kelas Dikembalikan
Oleh Nurdin, putra kelahiran Reo, Manggarai, NTT, Tinggal di Makassar
Semoga tanggapan yang terbangun ini tidak berhenti pada sekadar opini, tetapi menjadi refleksi bersama untuk terus memperbaiki diri dan sistem yang ada. Karena pada akhirnya, yang kita perjuangkan bukan hanya aturan atau kebijakan, melainkan masa depan anak-anak yang lebih adil, tangguh, dan bertanggung jawab.”
Saya membaca pernyataan ini berulang kali. Ada kedewasaan berpikir yang jarang ditemukan. Pak Shahrun tidak sekadar “mencari perhatian” atau “menggugat sistem”. Ia sedang membuka ruang dialog. Ia mengajak kita semua—guru, orang tua, masyarakat—untuk duduk bersama memikirkan masa depan anak-anak kita.
Dulu dan Kini: Sebuah Perbandingan Pahit
Saya adalah anak kampung yang dulu akrab dengan kata “tinggal kelas” sebagai momok menakutkan. Dulu, kalau tidak bisa baca di kelas 2, ya tinggal kelas. Tidak bisa menulis di kelas 3? Tinggal kelas. Hitungan dasar berantakan? Guru akan menatap tajam sambil berkata: “Kamu niat sekolah apa hanya mau hadir di kelas supaya terlihat anak sekolahan?” (Saya pernah dapat tatapan tajam dan kalimat yang menohok itu, Alhamdulillah, saya lulus juga.)