Demo Receh yang Menyadarkan: Ketika 12 Murid SD Protes Minta Sistem Tinggal Kelas Dikembalikan
Oleh Nurdin, putra kelahiran Reo, Manggarai, NTT, Tinggal di Makassar
Sistem kita saat ini seolah berkata: tidak apa-apa tidak bisa, yang penting naik kelas. Tidak apa-apa lambat, yang penting ikut ujian. Tidak apa-apa asal-asalan, yang penting lulus.
Dan pesan tersembunyi yang diterima anak-anak rajin? “Buat apa capek-capek? Ujungnya sama.”
Karakter Tidak Dibentuk dengan Kasihan
Katanya kurikulum sekarang mau membentuk karakter. Tapi karakter apa yang terbentuk kalau anak malas dan anak rajin diperlakukan sama?
· Anak malas belajar: “Ah, santai saja. Nanti juga naik kelas.”
· Anak rajin belajar: “Ah, untuk apa capek? Hasilnya sama.”
Kedua-duanya salah. Yang satu jadi pemalas legal, yang satu jadi sinis di usia dini.
Pengamat pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. H. M. Solehuddin, M.Pd., M.A., dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa sistem evaluasi yang tidak memberikan konsekuensi dapat merusak motivasi intrinsik siswa. Jika tidak ada bedanya antara yang berusaha dan yang tidak, maka yang akan hilang adalah semangat untuk berusaha.