Menangkal Krisis Moral Gen Z dengan Reorientasi Pendidikan Agama

Oleh Velsinal Yerin, Mahasiswi Stipas St. Sirilus Ruteng

Maraknya fenomena perundungan (bullying) di media sosial, kecanduan judi online, hingga lunturnya etika berkomunikasi di ruang digital sering kali dialamatkan sebagai rapor merah bagi Generasi Z (Gen Z). Masyarakat dengan cepat menuding bahwa generasi ini sedang mengalami krisis moral akut. Namun, sebelum telunjuk kita terlalu jauh menyalahkan gawai dan modernisasi, ada satu pertanyaan mendasar yang wajib diajukan ke dalam ruang refleksi kita sendiri: sejauh mana pendidikan agama di sekolah telah berhasil menyentuh kedalaman jiwa mereka?

Selama ini, harus diakui bahwa praktik pendidikan agama kita masih terjebak dalam pusaran formalitas akademik. Agama kerap diajarkan sebatas subjek hafalan untuk mengejar nilai kognitif di lembar rapor. Siswa dituntut hafal teks dalil dan lulus ujian pilihan ganda, namun kering dalam implementasi nilai-nilai substantif. Akibatnya, terjadi diskoneksi yang lebar: siswa mampu meraih nilai sempurna di kelas agama, tetapi kehilangan kompas moral saat berselancar di dunia nyata maupun dunia maya. Itulah mengapa reorientasi pendidikan agama kini bukan lagi sebuah pilihan, melainkan urgensi yang mendesak.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More