Demo Receh yang Menyadarkan: Ketika 12 Murid SD Protes Minta Sistem Tinggal Kelas Dikembalikan
Oleh Nurdin, putra kelahiran Reo, Manggarai, NTT, Tinggal di Makassar
Murid #3: “Katanya pendidikan mau membentuk karakter, tapi kenapa usaha dan malas diperlakukan sama?”
Murid #4: “Rajin atau malas, ujung-ujungnya sama-sama naik kelas. Terus, buat apa kami capek-capek belajar?”
Murid #8: “Anehnya kalau kami telat sedikit dimarahin, tapi kalau ada yang malas setahun, tetap naik kelas.”
Murid #11: “Kami minta bukan untuk menjatuhkan teman-teman. Kami hanya mau sistem pendidikan yang adil, bukan yang memanjakan kemalasan.”
Murid #12: “Terima Kasih.”

Perhatikan kalimat terakhir: “Bukan untuk menjatuhkan teman-teman.” Mereka paham bahwa meminta sistem tinggal kelas kembali bukan berarti ingin melihat temannya tertinggal. Mereka cuma minta keadilan.
Dan itu, bagi saya, adalah suara yang selama ini jarang kita dengar.
Suara dari Balik Layar: Tanggapan Sang Guru
Video ini viral. Ribuan komentar membanjiri. Dan di tengah riuh publik, sang guru, Pak Shahrun Banjar, memberikan pernyataan yang menyejukkan sekaligus menohok:
“Terima kasih atas setiap tanggapan yang disampaikan dengan penuh kepedulian terhadap masa depan pendidikan anak-anak kita. Setiap dukungan menunjukkan bahwa kita semua memiliki perhatian yang sama terhadap kualitas pembelajaran dan pembentukan karakter generasi penerus bangsa.