Demo Receh yang Menyadarkan: Ketika 12 Murid SD Protes Minta Sistem Tinggal Kelas Dikembalikan
Oleh Nurdin, putra kelahiran Reo, Manggarai, NTT, Tinggal di Makassar
Saya ingin berbagi pengalaman pribadi yang mungkin relevan dengan diskusi ini.
Anak saya, Keyla (saat ini duduk di kelas 3 MIN Reo), termasuk yang lamban bisa membaca saat di TK sampai menjelang waktunya masuk SD. Sebagai orang tua, saya tentu khawatir. Apakah ia nanti akan tertinggal? Apakah ia akan kesulitan mengikuti pelajaran di SD?
Tapi oleh ibu gurunya—yang kebetulan juga mamanya sendiri, Ibu Suhaidah Mamanda—kami diberikan nasihat bijak: Keyla tidak diperbolehkan masuk SD dulu. Ditunda satu tahun lagi.
Keputusan itu tidak mudah. Banyak tetangga bertanya, kenapa Keyla belum sekolah? Kenapa teman-teman sebayanya sudah masuk SD? Tekanan sosial itu nyata.
Tapi kami percaya pada guru. Kami percaya pada proses. Walhasil, Keyla masuk SD di usia 7 tahun—sedikit lebih lambat dari teman-temannya yang masuk di usia 6 tahun, bahkan ada yang kurang.
Hasilnya? Sungguh berbeda. Keyla lebih siap ketika masuk SD/MI. Ia tidak struggle dengan membaca, menulis, atau berhitung. Ia lebih percaya diri. Ia lebih matang secara emosional menghadapi lingkungan sekolah.