Demo Receh yang Menyadarkan: Ketika 12 Murid SD Protes Minta Sistem Tinggal Kelas Dikembalikan

Oleh Nurdin, putra kelahiran Reo, Manggarai, NTT, Tinggal di Makassar

4. Jangan seragamkan semua anak. Ada anak yang memang lambat secara kognitif (perlu pendekatan berbeda). Tapi ada anak yang cuma malas (perlu teguran dan konsekuensi). Bedakan perlakuannya. Yang lambat dibantu dengan pendampingan khusus, yang malas diberi teguran. Kalau disamakan, dua-duanya rugi.

5. Apresiasi usaha, bukan hanya hasil. Ini buat guru dan orang tua. Kalau anak dapat nilai 50 tapi usahanya luar biasa—ia datang pagi, memperhatikan, mengerjakan PR—rayakan. Beri dia penghargaan. Tapi kalau anak dapat 70 karena nyontek, atau karena orang tua mengerjakan PR-nya, ya jangan dibanggakan. Pendidikan karakter dimulai dari kejujuran.

Penutup: Untuk Guru, Murid, dan Orang Tua

Untuk Pak Shahrun Banjar dan 12 muridnya:

Terima kasih sudah berdemo. Terima kasih sudah memikirkan hal ini sejak SD. Kalian mungkin tidak sadar, tapi protes kecil kalian adalah cermin bagi kita semua bahwa anak-anak pun bisa merasa tidak adil. Mereka tidak protes minta libur panjang. Mereka tidak protes minta uang jajan naik. Mereka protes minta sistem yang lebih adil. Luar biasa.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More