Demo Receh yang Menyadarkan: Ketika 12 Murid SD Protes Minta Sistem Tinggal Kelas Dikembalikan
Oleh Nurdin, putra kelahiran Reo, Manggarai, NTT, Tinggal di Makassar
Namun, fenomena akhir-akhir ini juga menunjukkan hal yang perlu kita renungkan bersama: tidak sedikit orang tua yang datang ke sekolah atau melaporkan guru hanya karena persoalan sepele, tanpa memahami duduk perkara secara utuh. Ada yang protes karena anaknya dihukum berdiri, ada yang marah karena anaknya ditegur, ada yang melapor ke polisi hanya karena guru mencubit. Alih-alih bermitra, orang tua justru memosisikan diri sebagai “pengawas” yang siap menghukum guru.
Saya melihat fenomena ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar dengan orang tua yang “lebih maju” secara pemikiran. Di kampung saya sendiri, Reo, Manggarai, NTT, hal serupa juga mulai terjadi. Beberapa guru saya dengar mengeluh: mereka kini lebih takut pada orang tua murid daripada pada muridnya sendiri. Konsekuensinya? Guru menjadi sungkan menegur, ragu memberi nilai rendah, dan akhirnya—lagi-lagi—anak yang dirugikan.
Di sinilah pentingnya komunikasi dua arah yang sehat.
Ketika orang tua dilibatkan dalam proses evaluasi akademik—dipanggil bukan hanya saat ada masalah disiplin, tetapi juga saat anak mengalami ketertinggalan belajar—maka fokusnya akan bergeser. Dari sekadar membela atau menyalahkan, menjadi bersama-sama mencari solusi.