Narasi dari Kampung Tureng, Mengenang Agavitus Rahu; Sosok Ayah, Tua Golo, dan Pemerhati Kemanusiaan (Bag.III)
Oleh Pascual Semaun, SVD (Misionaris SVD Bekerja di Paraguay) dan Walburgus Abulat (Jurnalis dan Penulis Buku)
Pengantar Redaksi
Tulisan ini telah memasuki bagian ketiga atau terakhir, dipersembahkan untuk mengenang sosok Alm. Kakek (lopo) Agavitus Rahu yang meninggal dunia lima tahun lalu di usia 91 tahun. Diramu oleh kedua putra almarhum yaitu Pater Paulus Paskalis Semaun, SVD (Pascual Semaun) yang saat ini menjadi misionaris di Paraguay, Amerika Latin, dan Walburgus Abulat, wartawan senior di Flores dengan jabatan sebagai salah seorang direksi di Florespos.net. Sosok dan perjalanan hidup Alm. Lopo Aga, begitu ia biasa disapa, memang menarik untuk diulas; selain karena perjalanan hidupnya yang begitu bermakna untuk keluarga dan orang-orang sekitarnya, pertobatan, hingga hanya mengandalkan Iman serta membaca Kitab Suci setiap hari, juga karena ketokohannya sebagai orang tua yang bijaksana. Lopo Aga sangat melek dengan literasi. Tiada hari tanpa membaca dan menulis hingga usia senjanya. Dan buah pemikirannya terbilang mengagumkan. Simak saja tulisan berseri menarik dari kedua putranya ini.
Ya Popo Agavitus memang figure founding father utk kampung tureng , meski pun saya sendiri melihat dan berada secara inten bersama kehidupan Popo Agavitus hanya sampai SD, karena masa smp dan SMA berada diluar dan hampir jarang pulang , tapi memori masa SD itu tentang cara hidup Popo Aga bisa di narasikan begitu luas . Karena makna di balik tutur kata dan tindakan hidupnya sangat luas , melampaui sekedar kata kata yg pernah di ucap kan .