Demo Receh yang Menyadarkan: Ketika 12 Murid SD Protes Minta Sistem Tinggal Kelas Dikembalikan
Oleh Nurdin, putra kelahiran Reo, Manggarai, NTT, Tinggal di Makassar
Prolog: Pagi yang Berbeda
Pagi itu, saya menyeruput kopi di teras rumah, menikmati hari libur dengan scroll Facebook seperti biasa. Tiba-tiba jempol saya berhenti. Sebuah video menarik perhatian—bukan joget TikTok, bukan konten viral biasa.
Video itu menampilkan “simulasi demo”. Bukan demo mahasiswa dengan gas air mata. Bukan demo buruh dengan spanduk lusuh. Ini demo kelas. Iya, kelas. Seorang guru bernama Shahrun Banjar—guru MI/SD—tampil di depan kamera dengan pamflet bertuliskan: “Kembalikan Sistem Tinggal Kelas.”
Lalu satu per satu, 12 muridnya muncul. Masing-masing mengangkat kertas HVS berisi protes. Bergantian. Tertib. Seperti aksi damai yang dikemas dalam ruang kelas 3×4 meter.
Saya nonton. Lalu tersenyum. Lalu menghela napas panjang.
Apa yang Mereka Perjuangkan?
Coba baca sendiri protes anak-anak ini:
Murid #1: “Kembalikan Sistem Tinggal Kelas biar ada tanggung jawab, biar ada bedanya antara pejuang dan yang tidak berusaha.”
Murid #2: “Kalau sistem tinggal kelas tidak ada, usaha kami jadi tidak ada harganya. Yang tidak pernah belajar tetap naik kelas? Miris.”