Merumuskan Kurikulum Pendidikan Nasional

Oleh Urbanus Xaverius Landa, Alumni Fakultas Psikologi Unika Widya Mandala Surabaya

Paradigma di atas juga memicu perilaku produksi untuk menciptakan keuntungan sebanyak-banyaknya bagi diri sendiri dengan mengabaikan kepentingan orang lain. Untuk memasarkan hasil produksi, pasar yang tidak ada sering juga diciptakan lewat rekayasa keinginan bahwa apa yang diinginkan mesti dibeli dengan demikian barulah hasil produksi dapat dipasarkan seluas-luasnya sehingga produsen mendapatkan keuntungan yang diinginkan.

Kita tahu, produk/jasa yang dihasilkan mengharapkan belanja dan konsumsi sebanyak-banyaknya meskipun apa yang dibelanjakan dan apa yang dikonsumsi tidak sungguh-sungguh dibutuhkan oleh konsumen. Kita belanja sesuatu karena tidak dibutuhkan seperti makanan dalam kemasan maka ia akan disimpan dalam lemari dalam waktu yang lama hingga melewati masa kadaluarsa dan akhirnya harus dibuang karena sudah tidak layak konsumsi. Dengan kata lain, paradigma di atas menenmpatkan kehadiran orang lain dan juga alam hanya sekedar sebagai alat atau sarana demi tercapainya tujuan pribadi semata. Contoh lain yang dapat ditunjukan di sini adalah fenomena pertambangan yang brutal.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More