Merumuskan Kurikulum Pendidikan Nasional

Oleh Urbanus Xaverius Landa, Alumni Fakultas Psikologi Unika Widya Mandala Surabaya

Manusia adalah pusat dan memiliki dunianya sendiri. Kita menjadi pusat sejauh kita memiliki kesadaran diri. Ada pola yang selalu berulang, kita lahir, melewati masa anak-anak, remaja, dewasa, menua kemudian meninggal. Dalam tahapan itu kita bertumbuh menjadi pribadi yang terus menjadi. Kita berusaha menemukan kebermaknaan hidup. Disini, pendidikan mesti dapat membantu manusia untuk melewati siklus hidup sebagai pribadi yang berkesadaran dalam menjadi dirinya yang manusiawi sambil menanggapi kehadiran orang lain, lingkungan dan sekaligus menanggapi yang transendens.

 

Pertanyaan Panduan

Pekerjaan utama pendidikan adalah mendidik manusia agar manusia dapat menjadi manusia yang seharusnya, manusia yang berkesadaran, bukan manusia seperti mesin atau suku cadang, yang kehadirannya hanya untuk menggantikan peran manusia lainnya.

Ki Hadjar Dewantara menyebut tujuan pendidikan adalah membina manusia yang merdeka (Tsuchiya:2019). Untuk itu, pertanyaan pertama yang mesti diajukan sebelum merumuskan kurikulum pendidikan adalah bagaimanakah menjadi manusia? Pertanyaan ini sangat penting untuk diajukan sebab pendidikan itu mendidik manusia, sasaran yang mau dibentuk adalah manusia. Sangat disayangkan apabila mendidik manusia namun tidak mempertanyakan bagaimanakah menjadi manusia. Pendidikan yang tidak diawali dengan pertanyaan soal bagaimana menjadi manusia berisiko mengalami penyimpangan dan penyalagunaan pendidikan.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More