Merumuskan Kurikulum Pendidikan Nasional
Oleh Urbanus Xaverius Landa, Alumni Fakultas Psikologi Unika Widya Mandala Surabaya
Pertambangan di kawasan hutan mesti membabat tanaman dan ekosistem yang ada di atasnya. Jika terdapat pemukiman warga di lokasi yang hendak di tambang maka pemukiman tersebut akan digusur dengan nama yang halus seperti relokasi. Pada masa penjajahan, pemukiman warga seringkali dihancurkan lewat pengusiran paksa, perang bahkan pembunuhan masal. Setelah lahan dikuasai, dilakukan pengeboran ke dalam perut bumi. Selain ke dalam perut bumi, di atas permukaan, pembabatan hutan semakin melebar ke berbagai arah.
Pada akhirnya, setelah apa yang dicari telah habis diambil maka lokasi tambang akan ditinggalkan dengan lubang-lubang yang menganga begitu saja. Pemulihan diserahkan kepada alam. Dampak ekologis yang akan ditimbulkan tidak lagi dipedulikan. Pertambangan di atas adalah salah satu contoh bagaimana manusia mengambil sebanyak-banyaknya dari alam namun tidak diikuti dengan kemampuan yang sama dalam memperbaiki apa yang telah rusak agar keutuhan hidup tetap terjaga.
Ketiga, pertanyaan utama ketiga dalam merumuskan kurikulum pendidikan nasional adalah bagaimanakah tahapan perkembangan kependidikan seseorang? Pertanyaan ini bertujuan untuk memetakan usia dan tahapan belajar anak.