Literasi Membaca; Antara Harapan dan Kenyataan
Oleh Kunigunda Dahul, Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik STIPAS St. Sirilus Ruteng
Sebuah Janji dan Sebuah Harapan dari tuulisan ini saya awali dengan sebuah pengakuan jujur tentang bagaimana saya sendiri telah meninggalkan kebiasaan membaca yang dulu saya cintai. Dan saya ingin menutupnya dengan sebuah janji kepada diri sendiri sekaligus sebuah ajakan kepada seluruh teman mahasiswa yang membaca tulisan ini.
Literasi membaca bukan sekadar kemampuan teknis yang dapat diukur melalui tes dan survei. Ia adalah cerminan dari kualitas peradaban sebuah bangsa. Bangsa yang gemar membaca adalah bangsa yang berpikir jernih, yang kritis terhadap informasi, yang mampu berdialog secara dewasa, dan yang siap menghadapi tantangan masa depan dengan penuh kesiapan.
Sebagai calon pendidik agama Katolik, saya percaya bahwa mencerdaskan pikiran melalui membaca adalah salah satu bentuk nyata dari menghargai anugerah akal budi yang telah Tuhan berikan kepada kita. Santo Agustinus pernah berkata bahwa hati manusia tidak akan pernah tenang sampai ia beristirahat di dalam kebenaran. Dan kebenaran itu tidak akan pernah bisa kita temukan jika kita tidak mau membaca, merenung, dan berpikir secara mendalam.