Literasi Membaca; Antara Harapan dan Kenyataan
Oleh Kunigunda Dahul, Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik STIPAS St. Sirilus Ruteng
Apa yang Saya saksikan di Kampus berkaitan dengan literasi belajar Pertama, Setiap pagi ketika saya berjalan melewati perpustakaan STIPAS St. Sirilus Ruteng, saya selalu berhenti sejenak dan mengamati. Kursi-kursi di dalam perpustakaan itu lebih sering kosong daripada terisi. Rak-rak buku berdiri dengan sabar menunggu tangan yang mau meraihnya. Sementara itu, di kantin kampus dan di sudut-sudut taman, teman-teman saya duduk dengan kepala menunduk, jari-jari mereka sibuk menggulir layar ponsel tanpa henti. Ini bukan pemandangan yang asing. Ini adalah pemandangan sehari-hari yang sudah kita anggap normal. Padahal sesungguhnya ada yang sangat tidak normal dari situasi ini. Kita adalah mahasiswa. Kita datang ke kampus untuk belajar, untuk berpikir, untuk mengembangkan diri. Namun perpustakaan yang seharusnya menjadi jantung kehidupan intelektual kampus justru menjadi tempat yang paling sepi dikunjungi. Kedua, Kondisi Literasi Membaca di Indonesia dalam Data .Apa yang saya saksikan di kampus saya ternyata bukan fenomena lokal yang hanya terjadi di Ruteng atau di Flores. Ia adalah bagian dari potret besar rendahnya literasi membaca masyarakat Indonesia secara nasional. UNESCO mencatat bahwa Indonesia berada di peringkat kedua dari bawah dalam hal minat baca di antara 61 negara yang disurvei. Hanya satu dari seribu orang Indonesia yang disebut memiliki minat baca yang serius dan konsisten. Data dari Programme for International Student Assessment atau PISA yang dirilis OECD pada tahun 2022 menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa Indonesia berada di bawah rata-rata negara-negara anggota OECD. Skor literasi membaca siswa Indonesia tercatat sebesar 359 poin, jauh di bawah rata-rata OECD yang berada di angka 476 poin. Angka ini menempatkan Indonesia pada posisi yang sangat memprihatinkan bahkan di antara negara-negara Asia Tenggara sekalipun.