Literasi Membaca; Antara Harapan dan Kenyataan
Oleh Kunigunda Dahul, Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik STIPAS St. Sirilus Ruteng
Sementara itu, hasil survei Badan Pusat Statistik tahun 2022 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia rata-rata hanya membaca buku selama 4,7 jam per minggu. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan waktu yang dihabiskan untuk mengakses media sosial dan menonton konten hiburan digital yang mencapai lebih dari tujuh jam per hari. (BPS, 2022).Ketiga, Upaya Peningkatan Literasi di Indonesia. Pemerintah Indonesia sesungguhnya telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan tingkat literasi membaca masyarakat sejak lama. Pada masa Orde Baru, program pemberantasan buta huruf dijalankan secara masif melalui Kejar Paket A dan berbagai program pendidikan nonformal lainnya. Program-program ini berhasil menurunkan angka buta huruf secara signifikan dalam waktu yang relatif singkat.
Kemudian pada era reformasi, upaya peningkatan literasi semakin diperluas tidak hanya pada kemampuan membaca dasar, tetapi juga pada kemampuan membaca kritis dan pemahaman yang lebih mendalam. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah pada tahun 2016 sebagai respons terhadap rendahnya hasil PISA Indonesia. Program ini mewajibkan sekolah untuk menyediakan waktu membaca buku nonpelajaran selama lima belas menit sebelum jam pelajaran dimulai setiap harinya. (Wiedarti dkk., 2016). Meskipun berbagai upaya tersebut telah dilakukan dengan niat yang baik dan anggaran yang tidak sedikit, hasilnya masih belum memuaskan. Ini menunjukkan bahwa persoalan literasi membaca di Indonesia bukan sekadar persoalan akses atau fasilitas, melainkan persoalan budaya yang jauh lebih kompleks dan mengakar. Pengalaman Saya berkaitan dengan literasi adalah: Ketika Membaca Menjadi Beban