Literasi Membaca; Antara Harapan dan Kenyataan

Oleh Kunigunda Dahul, Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik STIPAS St. Sirilus Ruteng

Ada beberapa solusi yang dapat ditawarkan yaitu Menjembatani Harapan dan Kenyataan Menjembatani jurang antara harapan akan masyarakat yang literat dan kenyataan rendahnya budaya membaca yang kita hadapi hari ini membutuhkan pendekatan yang komprehensif, terkoordinasi, dan berjangka panjang. Berikut adalah solusi konkret yang menurut saya perlu segera diwujudkan. Pertama, Kembalikan Membaca sebagai Pilihan Bukan Kewajiban.Langkah pertama yang paling mendasar adalah mengubah cara pandang kita terhadap membaca. Selama membaca masih kita anggap sebagai kewajiban akademik yang melelahkan, kita tidak akan pernah benar-benar mencintainya. Kampus perlu menciptakan ruang dan suasana yang membuat membaca terasa menyenangkan dan bermakna. Dosen perlu menjadi teladan dengan terlihat mencintai buku, bukan sekadar menugaskan mahasiswa untuk membacanya. Kedua, Reformasi Sistem Pendidikan. Sistem pendidikan harus direformasi secara mendasar untuk menempatkan literasi membaca kritis bukan sekadar sebagai keterampilan dasar, melainkan sebagai kompetensi inti yang terintegrasi ke dalam seluruh mata pelajaran di semua jenjang pendidikan. Guru dan dosen perlu dibekali dengan pelatihan yang memadai tentang strategi pembelajaran berbasis literasi. Perpustakaan sekolah dan kampus perlu ditransformasi dari sekadar ruang penyimpanan buku menjadi pusat belajar yang hidup, menarik, dan relevan bagi kehidupan mahasiswa dan siswa. Ketiga,  Kebijakan Buku Terjangkau. Pemerintah perlu mengambil langkah konkret untuk menurunkan harga buku agar terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat termasuk di daerah-daerah terpencil seperti NTT. Kebijakan pembebasan pajak untuk buku, subsidi penerbitan buku berkualitas, dan perluasan jaringan perpustakaan umum hingga ke tingkat desa adalah langkah-langkah yang mendesak untuk segera diwujudkan bukan sekadar diwacanakan. Keempat, Hidupkan Kembali Perpustakaan Kampus Perpustakaan STIPAS St. Sirilus Ruteng dan perpustakaan kampus di seluruh Indonesia tidak seharusnya menjadi tempat yang sepi dan berdebu. Ia seharusnya menjadi pusat kehidupan intelektual yang hidup dan bergairah. Mari kita mulai dengan pilihan sederhana yaitu menggantikan satu jam waktu media sosial dengan satu jam membaca di perpustakaan. Ajak teman-teman untuk melakukan hal yang sama. Bentuk komunitas baca kecil di kampus. Diskusikan buku yang sedang dibaca bersama teman-teman setelah kuliah. Kelima, Penguatan Ekosistem Literasi Komunitas. Pemerintah daerah NTT perlu memberikan dukungan yang lebih nyata terhadap gerakan literasi berbasis komunitas yang telah tumbuh secara organik di masyarakat. Dukungan ini dapat berupa bantuan dana operasional, penyediaan koleksi buku, pelatihan pengelolaan perpustakaan komunitas, hingga pengakuan formal terhadap kontribusi para relawan literasi yang selama ini bekerja tanpa pamrih demi kemajuan bangsa.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More