Literasi Membaca; Antara Harapan dan Kenyataan
Oleh Kunigunda Dahul, Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik STIPAS St. Sirilus Ruteng
Adapun Faktor-Faktor Penghambat Literasi Membaca. Diantaranya sebagai berikut: Pertama, Faktor Ekonomi dan Akses. Harga buku yang masih relatif mahal dibandingkan dengan daya beli sebagian besar masyarakat Indonesia menjadi salah satu hambatan yang paling nyata. Bagi keluarga yang penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, membeli buku adalah kemewahan yang tidak terjangkau. Kondisi ini diperparah oleh distribusi perpustakaan umum yang masih sangat tidak merata, di mana fasilitas perpustakaan yang layak hanya tersedia di kota-kota besar sementara daerah-daerah terpencil seperti Ruteng dan wilayah pedalaman Flores masih sangat kekurangan. (Antoro, 2017). Kedua, Faktor Budaya dan Lingkungan. Faktor yang paling mendasar dan paling sulit untuk diatasi adalah faktor budaya. Indonesia adalah masyarakat yang secara tradisional lebih mengandalkan tradisi lisan daripada tradisi tulis dalam mentransmisikan pengetahuan dan nilai-nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kebiasaan bercerita, berdongeng, dan berdiskusi secara lisan memang memiliki nilai yang tinggi dalam budaya kita, tetapi juga berarti bahwa tradisi membaca belum pernah benar-benar mengakar kuat dalam keseharian masyarakat Indonesia termasuk di NTT. Ditambah lagi dengan semakin dominannya budaya hiburan digital yang menawarkan kesenangan instan tanpa usaha, semakin sulit bagi kebiasaan membaca yang membutuhkan konsentrasi dan kesabaran untuk bersaing memperebutkan waktu dan perhatian masyarakat. Ketiga, Faktor Sistem Pendidikan. Sistem pendidikan yang selama ini lebih menekankan hafalan dan pencapaian nilai ujian daripada pemahaman mendalam dan pemikiran kritis juga turut berkontribusi terhadap rendahnya budaya membaca. Ketika membaca hanya dipandang sebagai sarana untuk menghafal materi ujian, bukan sebagai aktivitas yang bermakna dan menyenangkan, maka tidak mengherankan jika mahasiswa seperti saya pun tidak pernah mengembangkan kecintaan sejati terhadap buku. (Freire, 1970). Keempat, Harapan yang Tersisa: Peluang Kebangkitan Literasi Membaca Indonesia