Literasi Membaca; Antara Harapan dan Kenyataan
Oleh Kunigunda Dahul, Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik STIPAS St. Sirilus Ruteng
Saya ingin jujur tentang sesuatu yang mungkin juga dirasakan oleh banyak mahasiswa lain tetapi jarang diungkapkan secara terbuka. Sejak masuk kampus, hubungan saya dengan membaca berubah drastis. Membaca yang dulu saya lakukan dengan suka cita dan rasa ingin tahu yang besar, kini sering terasa seperti kewajiban yang melelahkan. Pertama, Membaca Karena Terpaksa Bukan Karena Cinta. Setiap semester, dosen-dosen saya memberikan daftar bacaan yang panjang. Jurnal ilmiah, buku teologi, referensi pendidikan agama, dan berbagai literatur lainnya berjejer menunggu untuk dibaca. Dan saya membacanya. Tetapi saya membacanya bukan karena saya menikmatinya. Saya membacanya karena ada ujian yang menunggu, ada tugas makalah yang harus diselesaikan, ada presentasi yang harus dipersiapkan. Ketika membaca hanya dilakukan karena tekanan tugas akademik, ia kehilangan rohnya. Ia berubah dari sebuah petualangan intelektual menjadi sebuah kewajiban yang ingin segera diselesaikan. Dan ketika kewajiban itu sudah selesai, buku pun segera dilupakan dan digantikan oleh guliran media sosial yang terasa jauh lebih menyenangkan dan tidak membutuhkan usaha apapun. Kedua, Godaan Layar yang Tidak Pernah Tidur. Saya akui bahwa media sosial adalah pesaing yang sangat tangguh bagi buku. Ia selalu tersedia, selalu menawarkan sesuatu yang baru, dan selalu memberikan kepuasan instan yang tidak bisa diberikan oleh buku manapun. Ketika saya membuka Instagram atau TikTok, saya tidak perlu berkonsentrasi. Saya tidak perlu berpikir keras. Saya cukup duduk, menatap layar, dan membiarkan konten mengalir masuk tanpa henti. Berbeda dengan membaca buku yang membutuhkan konsentrasi penuh, kesabaran untuk mengikuti argumen yang panjang, dan kemampuan untuk duduk diam dalam waktu yang cukup lama. Di era serba cepat seperti sekarang, semua itu terasa seperti kemewahan yang sulit untuk dipertahankan. Dan inilah yang saya saksikan setiap hari di kampus saya. Teman-teman lebih memilih kantin dan layar ponsel daripada perpustakaan dan buku. Ketiga, Kenyataan yang Menyedihkan