Tsunami di Keuskupan Bogor: Kita Harus Bagaimana?
Oleh: Dr. Frederikus Fios, S.Fil., M.Th*
Kita diajak untuk berkata dalam hati kita masing-masing: “Tuhan, bukalah mata kami untuk melihat satu sama lain seperti Engkau melihat kami: dengan belas kasih, cinta, harapan dan pengampunan.” Bagaimana pun Pengampunan sebagai Nafas Gereja. Tidak ada dosa yang terlalu besar bagi kerahiman Allah, tidak ada luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Apa pun dinamika yang telah terjadi di Keuskupan Bogor, kita perlu ingat bahwa Gereja selalu memanggil kita untuk mengampuni, menyembuhkan hubungan-hubungan kita, memulihkan kepercayaan, dan melangkahkan kaki bersama sebagai satu keluarga Allah. Pengampunan bukan perasaan, melainkan keputusan untuk menyerahkan luka kita ke dalam hati Kristus yang penuh cinta dan belas kasih.
Gereja lokal keuskupan Bogor adalah sebuah keluarga yang sedang diterjang badai kehidupan. Kendatipun demikian keluarga ini harus tetap kuat menghadapi prahara ini. Sebagai sebuah keluarga, Gereja Keuskupan Bogor akan kuat apabila seluruh anggotanya: menempatkan Kristus sebagai pusat kesadaran bersama dan kehidupan mereka, menanggalkan keegoan pribadi-pribadi yang kontraproduktif dan menganggu nilai-nilai kebaikan bersama, mengutamakan semangat persatuan dan kesatuan, serta semangat berjalan bersama sebagai satu Tubuh mistik Kristus. Ketika imam dan Uskup berdamai (atau bersatu), umat akan merasa kuat, damai dan bahagia. Ketika umat kuat, damai dan bahagia, maka Gereja lokal semakin bersinar terang dan bertumbuh mekar di tanah Sunda. Ketika Gereja lokal bersinar, maka Gereja universal pun diperkaya dan dikuatkan eksistensinya. Kita tidak berjalan sendiri untuk memuaskan (atau mengedepankan) ego kita masing-masing atau tujuan pribadi kita yang salah arah. Namun kita berjalan bersama dalam tradisi iman Katolik: Kitab Suci, Magisterium Gereja, ajaran tradisi para rasul, dan bersama seluruh Gereja universal menjaga semangat kasih, persatuan dan persaudaraan sejati tanpa memandang golongan apapun kita entah suku, etnis, budaya, ras, golongan ataupun berbagai latar belakang unsur primordial lainnya yang tidak relevan dengan karakteristik Gereja Katolik yang kita cintai dan banggakan. Karena Kita harus membangun Gereja yang berorientasi Katolik-sentris. Semoga Prahara di Keuskupan Bogor segera bertransformasi menjadi pelangi spiritual yang indah mempesona bagi Gereja Indonesia dan Universal. Terima kasih banyak Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM, Selamat berkarya Uskup Administrator Apostolik Christophorus Tri Harsono. Selamat berdamai kembali para imam dan juga semua umat /awam di Keuskupan Bogor tercinta demi Gereja yang bertumbuh dan berjalan bersama lebih kuat di tanah Sunda ke depan.