Tsunami di Keuskupan Bogor: Kita Harus Bagaimana?
Oleh: Dr. Frederikus Fios, S.Fil., M.Th*
Saat ini, Roh Tuhan sebetulnya memanggil kita semua (hirarki dan umat Allah) untuk kembali melihat pada inti hidup Kristiani kita: menjadi saudara/i dalam Kristus yang saling melayani, saling mendengarkan, saling memaafkan dan saling mengampuni dalam kasih persaudaraan tanpa mengenal sekat di dalam tubuh mistik Kristus.
Melihat Diri Kita dalam Terang (Kehendak) Allah
Prahara konflik di Keuskupan Bogor membuat kita khawatir dan seolah-olah menghadapi bayang-bayang ketakutan diri: ada rasa ego dan keinginan untuk benar, ada kebutuhan untuk didengarkan, ada rasa terluka dan tersakiti, namun terbersit juga harapan besar terhadap nashi baik Gereja yang kita cintai.
Namun, sebelum kita melihat kekurangan diri sesama (atau sebelum kita menyampaikan maksud baik kita kepada Others), kita yakin Roh Kudus terlebih dahulu menginspirasi kita semua untuk berkata dalam hati: “Tuhan, jadikanlah aku alat perdamaian-Mu. Mulailah dari aku, sembuhkanlah hatiku yang rapuh, latah dan tak berdaya.”
Para Imam, Uskup, dan umat Allah kita sama-sama rentan: karena kita manusia memiliki banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan diri. Kesempurnaan hanya milik Allah yang kita imani. Kita manusia tidak ada yang kebal dari luka dan kerapuhan. Namun Kristus yang kita imani selalu selalu hadir untuk setiap pribadi yang rapuh, terluka, terciderai. Kita hanya dapat mengandalkan kasih Kristus dan bukan mengandalkan diri kita sendiri saja sebagai suatu realitas manusiawi. Kita butuhkan sentuhan dan jamahan Ilahi dari Allah. Inilah saatnya providentia dei (penyelenggaraan Ilahi) Allah turun atas diri kita, ia membantu kita untuk tidak salah bertindak, tidak memperburuk situasi, melainkan mencairkan kebekuan dalam terang kehendak Allah yang mendamaikan dan menyatukan.