Tsunami di Keuskupan Bogor: Kita Harus Bagaimana?

Oleh: Dr. Frederikus Fios, S.Fil., M.Th*

Mendengarkan bukan berarti setuju pada semua hal. Namun mendengarkan berarti menghormati kehadiran Kristus dalam diri kita, juga di dalam diri sesama dan alam lingkungan. Belajar untuk rendaha hati dan mendengarkan dalam kasih persaudaraan perlu diperkuat untuk kebaikan Gereja lebih baik di tanah Sunda.

 Hirarki dan Awam: Sama-sama Dipanggil untuk menjadi Teladan Baik di Tengah Dunia

Setiap kita sebagai pribadi terbaptis dipanggil untuk menjadi teladan, garam dan terang di tengah dunia ini (Bdk. Mat. 5: 13-16; Filipi 2: 15; 1 Ptr. 5: 2-3). Seorang uskup dipanggil menjadi “gembala yang berbau domba”, hadir, dekat, dan menjadi contoh dalam kesederhanaan, integritas, dan pelayanan penuh kasih. Keteladanan uskup menjadi inspirasi bagi para imam dan umat untuk hidup sesuai nilai-nilai Injil.

Imam bukan hanya mengajar, tetapi juga menghidupi pengajaran itu dalam praksis kehidupan nyata sehari-hari. Keteladanan mereka tampak dalam: kesetiaan pastoral, kerendahan hati dalam melayani, ketaatan pada uskup, disiplin Rohani yang tinggi, hidup doa yang adequat dan karya belas kasih yang berdampak positif bagi sesama. Keutuhan hidup seorang imam menjadi pewartaan yang lebih kuat daripada kata‑kata. Kesaksian hidup lebih penting nilainya daripada kata-kata yang ditulis atau dikotbahkan.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More