Narasi dari Kampung Tureng, Mengenang Agavitus Rahu; Sosok Ayah, Tua Golo, dan Pemerhati Kemanusiaan (Bag.III)
Oleh Pascual Semaun, SVD (Misionaris SVD Bekerja di Paraguay) dan Walburgus Abulat (Jurnalis dan Penulis Buku)
Pesan ayah di atas tidak dilekang waktu. Tetap terpatri hikmahnya dalam sanubariku. Kadang ketika ingat ayah seketika itu juga saya rindu mendengarnya seperti ketika itu di bawah terik matahari. Pesan yang sangat bermakna bagi saya di tanah misi. Ibarat yang ayah ceritakan ulang kepada saya sangat jelas maknanya. Makanan artinya hidup. Garam adalah iman. Iman bukan benda yang disimpan jauh dari hidup atau berada dari hidup. Iman tidak dipisahkan dari hidup. Dengan kata lain, iman adalah cara hidup menurut Yesus hidup. Dan hidup kita harus sungguh membuat iman jadi nyata dan menjadi saksi bahwa kita percaya kepada Tuhan. “Kita boleh berdoa banyak dan setiap minggu ke gereja, tapi kalau sesudah itu hidup kita tak karuan, bagaimana bilang kita beriman?”, tanya ayah retoris. “Kalau onong jadi misionaris SVD jangan lupa agar hidupmu tidak terpisah dari iman”, kata ayah.
Beberapa bulan kemudian ayah tahu bahwa saya ditempatkan di Paraguay, Amerika Latin. “Ya, kemudian jangan lupa kembali, karena di sini juga butuh misionaris”, katanya. Empat tahun sesudah itu saya berlibur di rumah. Ayah bertanya apakah saya senang bermisi di tanah orang. “Ya, senang dan bahagia kalau buat baik dan terlebih ketika ingat bapa dan mama”, kata saya. Dia tidak menimpal apa-apa. Sehari kemudian dia mengatakan kepada saya untuk kembali ke tanah misi. Seterusnya kontak kami berlangsung ketika liburan setiap tiga tahun dan video call. Kontak terakhir terjadi beberapa hari sebelum meninggal. Dia bangun dari tempat tidur dengan gembira berkata: “Anak saya sudah datang”. Bapa gembira melihat wajah saya lewat video call. Sesudah itu saya masuk kamar untuk berdoa dan ingat pesan bapa bahwa begitulah hidup bermakna kalau beriman. Dan terus terdengar kata-katanya: “katakan bahwa ayahmu mampu”. Saya tidak kehilangan ayah.
Ya Popo Agavitus memang figure founding father utk kampung tureng , meski pun saya sendiri melihat dan berada secara inten bersama kehidupan Popo Agavitus hanya sampai SD, karena masa smp dan SMA berada diluar dan hampir jarang pulang , tapi memori masa SD itu tentang cara hidup Popo Aga bisa di narasikan begitu luas . Karena makna di balik tutur kata dan tindakan hidupnya sangat luas , melampaui sekedar kata kata yg pernah di ucap kan .