Narasi dari Kampung Tureng, Mengenang Agavitus Rahu; Sosok Ayah, Tua Golo, dan Pemerhati Kemanusiaan (Bag.III)

Oleh Pascual Semaun, SVD (Misionaris SVD Bekerja di Paraguay) dan Walburgus Abulat (Jurnalis dan Penulis Buku)

IV. Beberapa anekdot dari bapa Agavitus Rahu

4.1.Bapa-mu mampu

Ketika Bapa Agavitus mengantar saya (Pater Pascual Semaun) untuk mendaftarkan diri di Sekolah Dasar Katolik Wae Kajong (1980), dalam perjalanan menuju kantor sekolah, bapa mengatakan kepada saya: “Jika gurumu bertanya, ‘Apakah engkau mau belajar, dan apakah bapamu bersedia dan mampu membiayai sekolah serta mentaati tuntutan-tuntutan lain yang diminta oleh sekolah?’ Katakan saja: ‘Bapaku bersedia, mampu membimbing, membiayai, mendampingi, dan mengantar anak-anaknya ke alam terang. Bapa membuka jalan dan menyiapkan masa depan kami melalui pendidikan.'” Mendengar nasihat bapa saat itu, secara spontan muncul rasa kegembiraan besar dalam hati saya. Bayangkan, sejak dini, di masa-masa sekolah dasar, bapa telah menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dan pandangan jauh ke depan untuk kehidupan anak-anaknya. Saya merasa bangga memiliki seorang bapa seperti Agavitus.

 

4.2. Satu biji kopi yang tercecer

Suatu pagi, saya (Pater Pascual Semaun) dan bapa pergi memetik kopi di kebun kopi di samping kapela Tureng. Biji-biji kopi yang dipetik disimpan dalam sebuah ember. Kebetulan, satu biji kopi saya lempar dari jauh dan jatuh di luar ember. Biji kopi itu tersembunyi di bawah rerumputan. Lalu, bapa agak marah dan menyuruh saya mencari biji kopi itu sampai ditemukan. Saya mencarinya, tetapi tidak ditemukan. Saya takut dipukul, maka saya memetik sebuah biji kopi dari pohon lain dan menunjukkannya kepada bapa sambil berkata, “Saya sudah menemukan biji kopi yang dicari.” Bapa pun tertawa dan berkata, “Biji kopi yang satu ini tidak boleh berada di luar ember terpisah dari biji-biji kopi yang lain, sebab dia akan menangis.” Pesanannya bisa diambil. Kehidupan kita pun ibarat biji-biji kopi yang terhimpun dan terkumpul dalam satu ember. Kita tidak menginginkan satu pun anggota keluarga berada di luar atau disingkirkan dari kehidupan bersama. Bapa menghendaki keluarga besar Tureng, serta anak-anak dan cucu-cucunya, agar tetap bersatu, ibarat biji kopi yang dipetiknya tadi.

Berita Terkait
1 Komen
  1. Hendrikus Wandak berkata

    Ya Popo Agavitus memang figure founding father utk kampung tureng , meski pun saya sendiri melihat dan berada secara inten bersama kehidupan Popo Agavitus hanya sampai SD, karena masa smp dan SMA berada diluar dan hampir jarang pulang , tapi memori masa SD itu tentang cara hidup Popo Aga bisa di narasikan begitu luas . Karena makna di balik tutur kata dan tindakan hidupnya sangat luas , melampaui sekedar kata kata yg pernah di ucap kan .

Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More