Narasi dari Kampung Tureng, Mengenang Agavitus Rahu; Sosok Ayah, Tua Golo, dan Pemerhati Kemanusiaan (Bag.III)
Oleh Pascual Semaun, SVD (Misionaris SVD Bekerja di Paraguay) dan Walburgus Abulat (Jurnalis dan Penulis Buku)

4.3. Garam
“Onong Paskalis sudah siap untuk kaul kekal menjadi anggota Serikat SVD?” Pertanyaan tak terduga dari bapak Agavitus kepada saya. Onong artinya anak, bapak memanggil saya begitu lalu disambung dengan nama saya.
“Ya, saya sudah putuskan untuk berkaul kekal”, jawab saya.
“Oh, memutuskan artinya ambil keputusan pasti, onong. Jangan ragu, itu panggilan untuk melayani sesama”. Bapak memandang saya dengan mata berbinar. Beberapa detik kemudian menengadah ke langit. Tapi kemudian sorotan matanya kembali mengarah kepada saya, sepertinya sedang menjelajah seluruh diriku dengan pandangan seorang ayah yang sangat baik mengenal saya.
Saya teringat kesempatan pertama kali ayah mengantar saya ke sekolah yang meyakinkan saya bahwa dia “mampu” melakukan segalanya untuk saya dan minta saya supaya jangan ragu. Saya menatapnya dengan mata setengah terpejam dan kurasakan saya sedang menunjukkan sikap saya sebagai anak yang mau dimanjakan ayah yang ada di hadapanku, berdua di bawah terik matahari. Aku kemudian sadar bahwa pipiku membasah. Aku sedang menangis. Perlahan kubuka mataku. Di depanku hanya sosok ayahku dengan sorotan mata berbinar, sepertinya kegembiraanya sedang meluap-luap. Kami tetap berdiri di bawah terik matahari. Kulitnya yang coklat terbakar matahari memberi sinyal kepada saya bahwa sudah lama dia menanti keputusan saya sambil menghabiskan waktunya bekerja di kebun, sarat akan mimpi masa depan yang baik bagi anak-anaknya. “Kalau begitu, ikut saja kemauan onong”, kata ayah sambil menepuk pundakku beberapa kali. Terasa seperti getaran yang sedang merambah seluruh diriku. Sensasi magnetis terasa sekujur tubuhku. Dengan kata lain aku gembira karena ayah gembira juga. Dalam percakapan selanjutnya diketahui bahwa ayah merindukan agar saya berkaul kekal. Karena ayah tidak pernah memaksakan kehendaknya, beliau membiarkan agar saya yang mengambil keputusan. Saya tahu ayah selalu berdoa untuk saya, dan saya yakin dia gembira karena doanya terkabul. “Onong Paskalis, saya pernah dengar romo omong tentang garam waktu khotbah”, kata ayah melanjutkan percakapan. Saya agak tercengang sambil menebak maksud ayah sehubungan dengan keputusan saya menjadi anggota tetap SVD.
Ya Popo Agavitus memang figure founding father utk kampung tureng , meski pun saya sendiri melihat dan berada secara inten bersama kehidupan Popo Agavitus hanya sampai SD, karena masa smp dan SMA berada diluar dan hampir jarang pulang , tapi memori masa SD itu tentang cara hidup Popo Aga bisa di narasikan begitu luas . Karena makna di balik tutur kata dan tindakan hidupnya sangat luas , melampaui sekedar kata kata yg pernah di ucap kan .