Fenomena Frustrasi Sosial dan Realitas Politik
Oleh Sebastian Salang, Pengamat Sosial dan Politik
Rakyat tidak butuh pemimpin yang sempurna. Yang mereka butuhkan jauh lebih sederhana dari itu, pemimpin yang hadir yang merasakan sesak nafas yang sama, yang malu ketika rakyatnya lapar sementara ia makan di restoran berbintang atas nama kunjungan kerja. Pemimpin yang mampu menjabab kebutuhan rakyatnya. Dapur petani di desa itu masih gelap, warung, kios, dan salon kecil itu masih tutup. Mejanya masih berdebu. Dan di sudut ruangan yang gelap, ada secangkir harapan yang kian dingin, menunggu seseorang pemimpin yang cukup peduli untuk datang menghangatkannya kembali.
Pada akhirnya, pilihan dan keputusan ada di tangan presiden. Frustrasi sosial kini ibarat virus, cepat menjalar, sulit dibendung. Salah membuat pilihan dan terlambat mengambil keputusan, harga yang harus dibayar bangsa ini akan sangat mahal. Karena begitu frustrasi sosial berubah wajah jadi perlawanan sosial, tak ada lagi kekuatan yang bisa menghentikannya. ***