Fenomena Frustrasi Sosial dan Realitas Politik

Oleh Sebastian Salang, Pengamat Sosial dan Politik

Kondisi sosial terluka parah dan kehilangan harapan, karena kecewa dan marah dengan perilaku korup, angkuh dan hedon elitnya. Tapi apakah rakyat akan diam selamanya? Jika semua rasa itu menumpuk, mengendap dalam diam, bukankah akan menjadi benih frustrasi yang pada saatnya tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih dahsyat dan sulit dikendalikan daripada defisit anggaran?

Sejarah terlalu banyak meninggalkan bukti tentang apa yang terjadi ketika kesenjangan antara penguasa dan yang dikuasai menjadi terlalu lebar, terlalu mencolok, terlalu tak tahu malu. Maka ini bukan sekadar soal ekonomi. Ini peringatan sosial yang seharusnya dibaca dengan serius oleh siapa pun yang duduk di kursi kekuasaan.

Sebelum semuanya terlambat, sebelum bencana dahsyat itu datang, presiden harus segera mengambil langkah berani, cepat, tepat dan terukur. Berani melakukan evaluasi total tata kelolah pemerintahan. Dan harus dilakukan sungguh-sungguh, bukan evaluasi pencitraan yang hanya menghasilkan konferensi pers tanpa perubahan nyata. Setiap program besar yang kini berjalan perlu diperiksa dengan jujur, apakah ia benar-benar sampai? Apakah manfaatnya nyata, terukur, dan dirasakan oleh orang yang benar, bukan oleh pejabat dan rekanan? Jika gagal, katakan gagal dengan lantang dan tanpa malu. Jika dananya bocor, akui, usut, dan tindak tanpa pandang siapa yang terlibat.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More