Fenomena Frustrasi Sosial dan Realitas Politik
Oleh Sebastian Salang, Pengamat Sosial dan Politik
Yang paling ironis, kata “efisiensi” itu hanya berlaku ke bawah. Ia tidak pernah menyentuh ke atas. Tunjangan pejabat tetap aman. Kendaraan dinas mewah tak terganggu. Anggaran perjalanan dinas dan studi banding ke luar negeri justru terus mengalir deras, seolah ada pengetahuan di sana yang tak bisa ditemukan di warung, kios, dan salon yang tutup itu. Efisiensi rupanya, adalah beban yang hanya boleh dipikul oleh mereka yang sudah tak kuat memikul apa-apa.
Lalu, ke mana uang negara pergi? Menurut narasi resmi, ia mengalir ke program-program besar yang penuh visi dan nama yang mengharumkan: Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih dan Sekolah Rakyat. Seolah negara sedang berpihak pada yang lemah. Tapi tangan di balik layar bercerita lain. Anggaran yang seharusnya sampai ke meja makan anak-anak miskin menguap di meja rapat para pejabat dan rekanan. Dana yang seharusnya menghidupkan koperasi desa berubah menjadi komisi yang mengalir ke rekening yang tak perlu disebutkan namanya. Rakyat hanya jadi objek. Wajahnya dipinjam untuk legitimasi, sebagai latar belakang foto yang bagus untuk siaran pers, lalu dilupakan begitu kamera dimatikan. Program mercusuar tanpa akuntabilitas bukan pembangunan. Itu drama para elit. Dan rakyat sudah jauh terlalu lelah untuk terus menjadi penonton setia.