Fenomena Frustrasi Sosial dan Realitas Politik
Oleh Sebastian Salang, Pengamat Sosial dan Politik
Di saat rakyat menghitung sisa beras di dapur, para pemimpinnya sibuk menghitung tiket pesawat. Bukan hanya pejabat daerah. Presiden sendiri sebagai cermin tertinggi yang dilihat seluruh hierarki di bawahnya, tampak tak pernah kekurangan agenda ke luar negeri. Semua tentu punya alasan resmi yang sah dan bisa dipertanggungjawabkan secara protokoler. Tapi pertanyaannya bukan soal alasan. Tapi soal kepekaan sosial, empati dan nurani pada orang kecil dan menderita. Ketika kepala negara terus terbang sementara rakyatnya kesulitan mengisi perut, yang hilang bukan hanya efisiensi anggaran. Yang hilang adalah sinyal moral, bahwa pemimpin merasakan apa yang dirasakan rakyatnya, bahwa ada empati yang memandu kebijakan, bukan sekadar pidato kosong yang tak menyentu realita. Tanpa sinyal itu, rakyat hanya bisa menarik satu kesimpulan bahwa hidup mereka yang susah bukan prioritas, bahwa mereka adalah angka dalam laporan makro ekonomi yang angkanya terlihat bagus di atas kertas, meski di bawah kertasnya ada orang yang makan sekali sehari.