Tsunami di Keuskupan Bogor: Kita Harus Bagaimana?

Oleh: Dr. Frederikus Fios, S.Fil., M.Th*

FENOMENA yang terjadi di Keuskupan Bogor patut kita sesali bersama. Gereja Keuskupan Bogor seperti dilanda tragika tsunami mengerikan. Melumpuhkan rasa dan pikiran setiap umat dan komunitas Keuskupan Bogor, bahkan mungkin komunitas Katolik Indonesia dan mondial-global. Ia mengundang diskursus yang bereskalasi meluas dan berkepanjangan di berbagai group media sosial: facebook, whatsapp, IG, Tiktok dll. Perbincangan mungkin juga terjadi di café, warung kopi, warteg, ruang keluarga, lingkungan, stasi, paroki dan seterusnya. Terlepas dari prokontra yang ada, saya mencatat satu point penting yang tidak boleh dilupakan: yakni bahwa pada saat ini semua elemen gereja, baik hirarki maupun awam telah saling melukai dan menciderai. Oleh karena itu kita perlu melakukan introspeksi diri tentang tugas dan posisi kita masing-masing secara tepat, bijak, etis dan spiritual.

Kita patut merenung secara mendalam bukan untuk mendengarkan suara ego kita, tetapi merenung untuk mendengarkan suara ilahi Roh Tuhan. Di balik dinamika, ketegangan, dan pergulatan batin yang saat ini dirasakan banyak umat Indonesia dan Umat Bogor pada khususnya, sikap tepat adalah refleksi dan introspeksi diri. Kita mungkin merasa sedih, kecewa, marah, menyesal atau putus asa bahkan sakit hati sebagai anggota gereja dalam tubuh mistik Kristus. Mengapa prahara ini terjadi? Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi. Kita masing-masing telah menjadi bagian dari prahara ini. Nasi sudah menjadi bubur. Kita tidak boleh berdiam diri. Harus ada langkah prospektif ke depan untuk perbaikan. Itu sebagai bukti tanggung jawab kita dan juga tanda kita sebagai bagian integral dari Gereja dan kita  peduli pada nasib masa depan Gereja Katolik yang kita banggakan.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More