Proyek Bandara Sasi sebagai Prospek Akselerasi Kemajuan di Perbatasan Indonesia-Timor Leste: Catatan Kritis Seorang Warga Diaspora TTU di Jakarta
Oleh: Dr. Frederikus Fios, S.Fil., M.Th*
Partisipasi publik—dengan konsultasi warga, partisipasi komunitas adat, tokoh masyarakat, pemuka agama, UMKM, dan pemangku kepentingan lokal—akan meningkatkan legitimasi proyek bandara Sasi, memperkecil resistensi sosial, dan memperkaya desain layanan bandara sesuai kebutuhan masyarakat Kabupaten TTU.
Satu catatan yang perlu diperhatikan, agar pembangunan bandara Sasi tidak jatuh pada euforia sesaat, indikator keberhasilan harus terukur dengan tepat oleh Pemerintah TTU. Misalnya: waktu tempuh rata-rata dari/ke TTU yang berkurang signifikan; peningkatan jumlah penumpang dan frekuensi penerbangan; kenaikan nilai investasi masuk; pertumbuhan kunjungan wisata; penyerapan tenaga kerja; peningkatan PAD dari sektor jasa; serta waktu respons kedaruratan yang lebih cepat. Evaluasi triwulanan pada 2 tahun pertama operasi dapat menjadi mekanisme pembelajaran untuk penyesuaian rute, jadwal, dan layanan sehingga kualitas lebih baik dan terjaga.
Mencermati seluruh aspek di atas, pembangunan Bandara Sasi adalah keputusan visioner dan strategis yang menjawab kebutuhan mendesak TTU: efisiensi mobilitas, keterhubungan antardaerah, penguatan layanan publik, dan pengungkit pertumbuhan ekonomi serta pariwisata local di Kefamenanu. Proyek ini bukan sekadar membangun landasan pacu, terminal, dan menara kontrol; ia menata ulang cara TTU terhubung dengan dunia di luar batas geografisnya. Dukungan filosofis rasional—berlandas data, analisis, dan partisipasi—akan mengkawal proyek ini berjalan tepat sasaran, akuntabel, dan berkelanjutan. Dengan tata kelola yang baik, komitmen lingkungan, dan skema pembiayaan yang cerdas, Bandara Sasi akan menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan TTU yang lebih maju, inklusif, dan kompetitif.