Proyek Bandara Sasi sebagai Prospek Akselerasi Kemajuan di Perbatasan Indonesia-Timor Leste: Catatan Kritis Seorang Warga Diaspora TTU di Jakarta
Oleh: Dr. Frederikus Fios, S.Fil., M.Th*
Seorang rekan akademisi di Unimor-Kefamenanu dalam kesempatan berjumpa di Bandara El Tari Kupang awal Januari lalu juga mengapresiasi langkah brilian Bupati Falentinus Kebo dan Wakil Bupati Kamilus Elu ini dalam menghadirkan inovasi penting di sektor transportas. “Saya rasa waktu tempuh Kefa-Kupang terlalu panjang untuk kebutuhan koordinasi yang cepat apalagi kami yang ada urusan dinas. Bandara Sasi saya yakin mampu memangkas keterlambatan dan meningkatkan efisiensi pelayanan public di Kefa. Oleh karena itu saya dukung Pemda dalam Upaya strategis yang mulai dirintis saat ini”, ujarnya.
Kehadiran bandara Sasi berpotensi mempersingkat perjalanan menjadi kurang dari satu jam penerbangan, sehingga dengan demikian membuka ruang bagi penjadwalan yang lebih akurat serta peningkatan produktivitas lintas sektor pembangunan di TTU dan juga daerah lain di sekitarnya.
Membuka Isolasi Geografis dan Memperkuat Konektivitas Manusia
Secara geografis, TTU merupakan wilayah dengan bentang daratan yang menantang, infrastruktur jalan yang terus membaik namun rentan terhadap cuaca, dan jarak antara pusat layanan yang relatif berjauhan dengan locus TTU. Dalam konteks ini, ketergantungan tunggal pada moda darat tidak cukup. Bandara Sasi diharapkan menjadi simpul konektivitas yang melengkapi sistem transportasi darat, mengurangi risiko keterlambatan akibat hambatan jalan, serta memberikan alternatif mobilitas manusia dan barang ketika cuaca ekstrem mengganggu jalur transportasi lain.