Politik Makhluk Halus
Oleh: Bernadinus Steni, (Kandidat Doktor dalam bidang Managemen Lingkungan IPB, Penggiat Standar Berkelanjutan)
Pasalnya, dijanjikan menang mutlak dari 4 pasangan calon, sang kandidat malahan kalah telak di urutan bontot. Amarahnya yang menjulang hingga langit ketujuh akhirnya menyeret para dukun abal-abal itu ke tinju para tukang pukul.
Promo mantra memang efektif menjerat sang kandidat, tetapi tak cukup bertaji menangkal tinju para tukang pukul. Apa daya, perapal mantra itu pun berakhir celaka.
Buat masyarakat politik Indonesia, jangan sedih, jangan pula marah. Tetapi tertawalah semeriah mungkin. Sebab, realitas politik kita yang seperti ini adalah cermin dari masyarakat politik sehari-hari.
Tidak rasional, tidak pula sekuler. Semuanya serba tanggung. Namun, kita tetap perlu bertanya, kepada siapa para politisi itu nanti mengabdi: rakyat atau makhluk halus?