Politik Makhluk Halus

Oleh: Bernadinus Steni, (Kandidat Doktor dalam bidang Managemen Lingkungan IPB, Penggiat Standar Berkelanjutan)

Namun di seluruh dunia, para peneliti menemukan demokrasi vernakular yang tidak hanya beragam tetapi juga menyimpang dari ideal normatif demokrasi (barat) dan menunjukan dengan jelas bahwa demokrasi Euro-Amerika sendiri tidak menghidupi dan sebenarnya dahulu pun tidak menjiwai ideal normatif yang mereka rumuskan sendiri.

Jauh dari dari jalan sederhana menuju sekularisasi, demokrasi justru menempuh jalan pascasekuler.

Semenjak 1980-an, agama telah merasuk dalam politik dan ranah publik di berbagai negeri. Dari Iran hingga Amerika Serikat, fundamentalisme agama dan perang terhadap teror sudah menjadi tren pada masa kini.

Maka, dalam kesimpulan Bubandt, demokrasi tampaknya tidak harus menuju kepada rasionalisasi dan sekularitas. Dalam konteks itu pula politik dan makhluk halus bergerak dalam demokrasi kontemporer Indonesia.

Bubandt mengutip Donald Horowitz menyebutkan paradoks demokrasi Indonesia sebagai distingtif, jika bukan unik yakni terletak pada fakta bahwa demokrasi Indonesia sukses dan gagal sekaligus.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More