Politik Makhluk Halus
Oleh: Bernadinus Steni, (Kandidat Doktor dalam bidang Managemen Lingkungan IPB, Penggiat Standar Berkelanjutan)
Nils Bubandt, antropolog dari Universitas Aarhaus Denmark mengupas fenomena ini dalam buku berjudul “Democracy, Corruption, and Politics of Spirit” (2014).
Bubandt menulis bahwa makhluk halus merupakan proyeksi dari suatu kenyataan politik di Indonesia yang mengaitkan antara keduanya dalam pengalaman politik.
Kabur tapi efektif. Nyata tapi tidak dapat diprediksi. Niscaya tapi tidak diyakini. Berkuasa tapi memalukan. Sayangnya, pada saat bersamaan Indonesia juga membopong demokrasi yang termanifestasi dalam berbagai struktur politik, termasuk pemilihan umum.
Demokrasi adalah salah satu capaian berpikir untuk menuntun pengelolaan masyarakat dalam cara pandang modernitas yang sekaligus menjadi akhir dari keyakinan dan ilmu gaib.
Kekuatan akal yang diandalkan dalam modernitas tidak hanya mempengaruhi filsafat tetapi juga ilmu politik abad kedua puluh dan menjadi instrumen analitis yang kuat untuk memahami politik dalam konteks pilihan rasional dan kepentingan politik.
Hal ini merupakan manifestasi dari perjuangan panjang kebudayaan Eropa menuju sekularisasi, individualisme, dan demokrasi.