Politik Makhluk Halus
Oleh: Bernadinus Steni, (Kandidat Doktor dalam bidang Managemen Lingkungan IPB, Penggiat Standar Berkelanjutan)
Bagi penganut politik rasional, tidak ada yang begitu jelas bagi alam politik perdukunan selain bahwa jelang 2024 “orang pintar” akan meraup rejeki nomplok.
Mereka seharusnya layak masuk dalam daftar jenis pekerjaan untuk kena pajak. Tolong, petugas pajak mempertimbangkan usulan ini.
Karena, tidak sedikit dari para perapal mantra itu lalu lalang mengendarai mobil super mewah dan aset bernilai fantastis. Mungkin pula ada potensi “money laundrying”.
Apalagi mengikuti hukum pasar, permintaan akan makin banyak, peredaran aset makin sulit dipantau.
Dunia politik Indonesia akan segera menyaksikan panggung politik perdukunan, dimana para kontestan akan berduyun-duyun mendatangi para pemeluk mantra penjinak suara.
Para dukun pun ikut berkampanye. Mengaku “cespleng”, setelah bayar langsung “plong”. Barangkali akan ada promo seperti ini “Ayo…yang murah, yang murah, 1000 jin cukup 1 Milliar…” Atau, “..1000 lilin doa, yakin pasti terpilih..”
Promosi kecap nomor satu, tentu sah sah saja. Karena, tidak ada mantra nomor dua. Tetapi jangan senang dulu. Beberapa tahun silam di suatu daerah seorang kandidat yang gagal terpilih tak sanggup menahan angkara murka.