“Kantau, Boe Genda, dan Jejak yang Berbicara Kembali”. Refleksi Atas Panggung Kebanggaan Orang Reo di Kupang

Oleh Nurdin, Putra Reo di Perantauan.*

 

Seruan untuk Melangkah Bersama: Dari Bisu Menjadi Gema

Maka, mari kita jadikan momen bersejarah ini sebagai titik tolak baru. “Raes Cama Ka’eng”—marilah kita tanggung bersama suka duka melestarikan warisan ini. Bukan hanya Kantau dan Boe Genda, tetapi juga tradisi “Ndiri Biola”, seni Hadrah, dan semua kekayaan lain.

“Wa Wae Cama-Cama, Eta Golo Cama-Cama”—baik di lembah keterpurukan sejarah yang terlupakan, maupun di bukit kebanggaan masa depan, kita harus bersatu. Untuk Reo, ini berarti:

> Bagi Generasi Tua: Terus ceritakan narasi yang utuh, jangan yang terfragmentasi.

> Bagi Generasi Muda: Jadilah “akuntan budaya”. Audit warisan kita. Kumpulkan, dokumentasikan, dan bangun narasi digital tentang Reo yang komprehensif.

> Bagi Komunitas di Perantauan dan di Kampung: Dukung setiap inisiatif pelestarian. Jadikan kelompok seni seperti pembawa Boe Genda dan Kantau di Kupang ini sebagai duta budaya yang kita dukung bersama.

Pertunjukan di Kupang itu telah membuka mulut “Jene Bedi” yang bisu. Suaranya masih kecil, tapi telah terdengar. Sekarang, tugas kita adalah menggelembungkan suara itu menjadi gema yang mengguncang kesadaran, agar tidak ada lagi anak cucu kita yang tumbuh tanpa mengetahui kedalaman dan keindahan dari jejak sejarah yang mereka pijak.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More