“Kantau, Boe Genda, dan Jejak yang Berbicara Kembali”. Refleksi Atas Panggung Kebanggaan Orang Reo di Kupang
Oleh Nurdin, Putra Reo di Perantauan.*
Memoar saya yang belum rampung, “Jejak Meriam yang Bisu: Menelusuri Narasi Sundrang, Naib, dan Transformasi Paksa di Reo”, berusaha membaca keheningan itu. Narasi singkatnya adalah ini: Reo bukanlah permulaan dari kekosongan. Pada abad ke-18, dalam percaturan politik antara Kerajaan Gowa dan Kesultanan Bima, Manggarai pernah menjadi “Sundrang” (mahar). Dari ikatan inilah kemudian Bima menancapkan kekuasaannya di Manggarai dengan menjadikan Reo sebagai pusat administrasi (Kediaman Naib), perwakilan Sultan untuk seluruh wilayah.
Di bukit strategis Tengkuromot, sebagai simbol kedaulatan dan pertahanan, diletakkanlah “Jene Bedi”. Itu adalah era di mana Reo adalah “Kantor Wilayah” yang vital, di mana bahasa Bima (Nggahi Mbojo) menjadi bahasa administrasi dan budaya, dan jaringan Islam dari pesisir mengalir kuat. Reo adalah pintu masuk utama peradaban maritim dan politik dari barat (Gowa-Bima) ke dataran Manggarai.
Lalu datanglah kolonial Belanda dengan strategi “devide et impera” dan transformasi paksa yang sistematis (1900-1930-an). Pusat pemerintahan dipindahkan paksa dari Reo (Islam, pesisir, berjejaring dengan Bima) ke Ruteng (pedalaman). Misi Katolik, bersama pemerintah kolonial, membangun pusat peradaban baru melalui pendidikan, kesehatan, dan politik. Lahirlah narasi dominan baru, sementara narasi lama tentang Reo sebagai pusat politik dan Islam lama-lama dibungkam, dilupakan, atau dipelintir.