“Kantau, Boe Genda, dan Jejak yang Berbicara Kembali”. Refleksi Atas Panggung Kebanggaan Orang Reo di Kupang
Oleh Nurdin, Putra Reo di Perantauan.*
2. Sebagai Penyatuan Fragmen Identitas: Bagi banyak perantau asal Reo seperti saya, yang sering merasa terombang-ambing antara identitas sebagai “orang Manggarai” dengan kesadaran akan kekhasan sejarah pesisir kami, pertunjukan ini adalah penguatan. Ia mengatakan: “Kamu boleh bangga sebagai orang Manggarai, tapi jangan lupa kamu juga adalah pewaris semangat kewilayahan, disiplin, dan jejaring maritim dari tradisi Naib.”
3. Sebagai Dialog dengan Sejarah Nusantara yang Lebih Luas: Kantau dan Boe Genda yang ditampilkan bukanlah artefak mati. Mereka adalah bukti hidup bahwa orang Reo adalah bagian dari jaringan sejarah Nusantara yang besar—terkait dengan kejayaan Gowa, administratif Bima, dan percaturan dagang serta budaya lintas laut. Ini melampaui batas-batas kabupaten dan provinsi sekarang.
4. Sebagai Jawaban bagi Generasi Muda: Ini adalah pendidikan publik yang paling efektif. Daripada berdebat di ruang kelas, tunjukkan pada anak muda kebanggaan itu di panggung terbuka. Biarkan mereka bertanya, “Mengapa gerakan Kantau kita terasa berbeda dgn yang di Buton, di Sumbawa?” Dari pertanyaan itu, kita bisa bercerita tentang Jene Bedi, tentang Naib, tentang Bahasa Bima (Nuntu Mbojo) yang “hampir punah” karena masifnya opengguna bahasa Indonesia dalam keluarga tradisonal Orang Reo, dan tentang pentingnya mengenal diri sendiri seutuhnya.