“Kantau, Boe Genda, dan Jejak yang Berbicara Kembali”. Refleksi Atas Panggung Kebanggaan Orang Reo di Kupang
Oleh Nurdin, Putra Reo di Perantauan.*
Dalam konteks inilah, kearifan lokal orang tua-tua Reo dalam bahasa Bima menemukan relevansinya yang mendalam. Misalnya, nasehat “Aina Eda Mbuda, Ringa Mpinga” (Jangan melihat dengan mata buta, mendengar dengan telinga tuli) mengajak kita untuk kritis dan penuh kesadaran dalam membaca sejarah kita sendiri—tidak menerima begitu saja narasi yang dominan, tetapi menggali kebenaran yang mungkin tersembunyi.
Sementara, “Aiana Kana’e Weki dei Rasa Dou” (Jangan sombong di tanah orang) mengingatkan kita di perantauan untuk membawa kebanggaan budaya dengan rendah hati dan elegan, sebagaimana ditunjukkan dalam pertunjukan di Kupang ini.
Mengapa Pertunjukan Ini Sangat Strategis dan Menggugah?
Inilah mengapa penampilan Kantau dan Boe Genda di Kupang itu begitu dahsyat maknanya:
1. Sebagai Reklamasi Ingatan Kolektif: Di hadapan ribuan orang Manggarai, kelompok keluarga Reo secara halus namun gagah mengingatkan semua: “Kami ada. Sejarah kami panjang. Warisan budaya kami memiliki karakter dan akar yang unik, yang mungkin berbeda dengan mainstream narasi Manggarai pedalaman.” Ini adalah pembetulan atas kebisuan sejarah.