“Kantau, Boe Genda, dan Jejak yang Berbicara Kembali”. Refleksi Atas Panggung Kebanggaan Orang Reo di Kupang

Oleh Nurdin, Putra Reo di Perantauan.*

Di panggung akbar “Syukuran Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 IKMR Kupang”, sebuah peristiwa budaya terjadi, jauh melampaui sekadar pertunjukan. Ketika irama Boe Genda yang mantap mulai bertalu dan para penari Kantau melangkah dengan sikap waspada dan penuh wibawa, yang bergema bukan hanya suara gendang dan hentakan kaki. Yang berbicara adalah sejarah yang lama dibungkam, identitas yang dikerangkeng dalam narasi tunggal, dan kebanggaan sebuah komunitas yang menemukan kembali suaranya.

Tema agung acara, “Raes Cama Ka’eng, Wa Wae Cama-Cama, Eta Golo Cama-Cama,” menemukan perwujudan yang paling kongkrit dan berdenyut dalam pertunjukan itu. Ini bukan sekadar slogan persatuan, tetapi sebuah prinsip hidup yang diuji oleh sejarah panjang orang Reo. Prinsip yang ternyata memiliki akar yang dalam, mungkin lebih dalam dari yang kita sangka.

Sebagai seorang anak Reo yang telah 32 tahun mengarungi karier di BRI, dari Kupang hingga Makassar, hati ini berdesir kencang. Perjalanan geografis saya—dari tanah kelahiran ke Makassar (bekas pusat Gowa), ke Bali, ke Bima dalam jejak sejarah—ternyata secara tak terduga mencerminkan perjalanan historis leluhur kami. Dan di Kupang, di depan keluarga besar Manggarai, kini kita menyaksikan sebuah fragmen dari warisan itu hidup kembali.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More