Itu Hasrat Bukan Cinta; Refleksi Seorang Remaja tetang Dinamika Masa Remaja
Oleh Sefrianus Wiparlodi Maang, Siswa Kelas XII SMAS St. Gregorius Reo
Masa remaja merupakan periode pertumbuhan manusia pada rentang usia 14-21 tahun. Periode pertumbuhan ini mejadi fase krusial, sebab remaja kerap bertumbuh dalam gejolak psikologis mencari dan menemukan teman yang dapat memahami dan menolongnya yang umumnya diawali satu sama lain (Samsu Yusuf, 2014). Tentu saja, periode ini menjadi masa yang mengasyikan di mana ada upaya saling mengenal satu sama lain, bertumbuh bersama, dan memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi terhadap lawan jenis. Setiap perjumpaan bisa menjadi moment terbuka untuk saling mengenal yang didorogn oleh rasa ingin tahu. Akan tetapi, dinamika emosional itu kerap disalahartikan dan mengaburkan batasan antara kasih yang tulus dan gerakan spontan hasrat yang sesaat.
Pergeseran Nilai dalam Relasi Remaja
Perjumpaan yang intens tentunya menambah kedekatan, rasa percaya, dan perasaan mendalam. Namun, seringkali perasaan itu muncul tanpa pertimbangan rasional yang cukup matang. Artinya, perasaan yang timbul dinilai sebagai luapan emosi yang harus diungkapkan dalam aksi tertentu. Fenomena ini seringkali terjadi dan menunjukan bahwa kedekatan fisik seperti berpegangan tanga hingga tindakan seksual tidak lagi dianggap tabu oleh sebagian pihak. Para remaja seolah-olah menjadikan tindakan seksual pada masa pacaran sebagai tindakan lumrah. Banyak remaja terjebak dalam proses itu sehingga mereka beranggapan tindakan demikian merupakan hal yang wajar bahkan terkesan manusiawi, tanpa memikirkan marwa dan kesucian seorang pribadi. Hal ini didukung oleh Survei KPAI dan Kemenkes pada tahun 2013 yang menunjukkan bahwa sekitar 62,7% remaja di Indonesia pernah melakukan hubungan seks di luar nikah.