Di Antara Wajan dan Cita-Cita
Catatan seorang pelajar tentang tanggung jawab, sekolah, dan harapan di Manggarai
Saya tidak ingin dikenal sebagai siswa yang datang terlambat. Saya ingin dikenal sebagai siswa yang tetap berusaha meski jalannya tidak selalu mudah.
Ketika Wajan dan Mimpi Bertemu
Setiap pagi, ketika minyak kembali berdesis sebelum bel sekolah berbunyi, saya sadar bahwa hidup memang penuh tantangan. Tetapi saya juga sadar bahwa saya masih memiliki kesempatan. Kesempatan untuk belajar. Kesempatan untuk bermimpi. Kesempatan untuk mengubah keadaan sedikit demi sedikit.
Mungkin di luar sana ada banyak pelajar lain yang juga memulai hari dengan cara yang tidak sederhana. Mereka berjuang dalam diam, tanpa banyak diketahui orang lain. Semoga sekolah selalu menjadi tempat yang memberi semangat dan membuka jalan bagi setiap anak, apa pun latar belakangnya.
Di antara wajan dan cita-cita, saya memilih untuk tidak menyerah. Karena saya percaya, suatu hari nanti, ketika mimpi itu benar-benar terwujud, saya akan mengingat kembali bunyi desis minyak di pukul tiga subuh sebagai awal dari segalanya.***