Di Antara Wajan dan Cita-Cita
Catatan seorang pelajar tentang tanggung jawab, sekolah, dan harapan di Manggarai
Oleh Laudia Angela Le’u Matafua, Siswi SMAS St. Gregorius Reo
Pukul tiga subuh bukanlah waktu yang biasa bagi sebagian besar pelajar. Pada jam itu, mungkin banyak yang masih terlelap, memeluk selimut/, atau bermimpi tentang masa depan. Tapi bagi saya, pukul tiga subuh adalah awal dari dua dunia yang harus saya jalani sekaligus.
Di dapur kecil rumah kami, api kompor sudah menyala. Ibu berdiri di depan wajan berisi minyak panas. Cahaya lampu yang redup membuat bayangan kami terlihat panjang di dinding. Saya duduk di bangku kayu rendah, membentuk adonan kue satu per satu. Tangan masih berat oleh kantuk, tetapi pekerjaan harus selesai sebelum matahari terbit.
Minyak mulai berdesis saat adonan pertama dimasukkan. Bunyi itu seperti alarm kehidupan kami, mengabarkan bahwa hari harus dimulai, entah siap atau tidak.
Saya tinggal di Reo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, sebuah daerah kecil tempat banyak keluarga bertahan hidup dari usaha sederhana dan kerja keras setiap hari. Keluarga kami menjual kue di depan SPBU APMS Reo. Dari situlah kebutuhan sekolah, buku, dan keperluan rumah tangga perlahan dipenuhi. Sebelum mengenakan seragam putih abu-abu, saya lebih dulu mengenakan tanggung jawab.