Di Antara Wajan dan Cita-Cita

Catatan seorang pelajar tentang tanggung jawab, sekolah, dan harapan di Manggarai

Saya belajar bahwa disiplin adalah bagian dari proses menjadi dewasa. Namun, ada jarak yang sering tidak terlihat antara bangku kelas dan dapur kecil tempat hari saya dimulai. Jarak itu bukan soal tempat, tetapi soal cerita.

Di kelas, saya duduk seperti siswa lainnya. Mencatat, mendengarkan, dan berusaha memahami pelajaran. Tetapi kadang rasa lelah datang pelan-pelan. Mata terasa berat, terutama ketika malam sebelumnya saya tidur lebih larut karena harus menyelesaikan tugas.

Dalam keadaan seperti itu, saya teringat kata-kata ibu, “Sekolah yang rajin supaya kamu tidak selamanya hidup susah.” Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung harapan yang besar. Dari ibu, saya belajar tentang ketekunan. Dari sekolah, saya belajar tentang kemungkinan.

 

Realitas yang Tidak Selalu Terlihat

Di banyak sudut Nusa Tenggara Timur, kehidupan anak sekolah tidak selalu berjalan lurus. Ada yang membantu orang tua di kebun sebelum berangkat. Ada yang ikut melaut saat subuh. Ada yang berdagang kecil-kecilan di pasar. Sekolah dan kerja bukan dua hal yang selalu terpisah. Bagi sebagian anak, keduanya berjalan berdampingan.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More