Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

Oleh: Apriska Stevi Pando, Siswi Kelas XII SMAS St. Gregorius Reo

Sejalan dengan teori whole child approach yang diusun oleh ASCD, sekolah idealnya tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga memastikan setiap siswa merasa aman, sehat, terlibat, dan didukung secara menyeluruh. Prinsip ini menegaskan bahwa pendidikan harus memandang peserta didik sebagai individu utuh, bukan sekadar angka dalam rapor. Karena itu, menghadirkan mata pelajaran psikologis di sekolah menengah menjadi langkah strategis untuk mewujudkan lingkungan belajar yang lebih peduli terhadap kesehatan mental siswa. Satuan pendiidkan tidak boleh terus menunda perhatian terhadap persoalan ini, sementara angka masalah psikologis remaja terus menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan.

Berdasarkan data survei kesehatan Indonesia (SKL) yang dilakukan pada tahun 2023 menunjukkan adanya prevalensi masalah kesehatan jiwa pada usia remaja yang umumnya berusia 15-27 meningkat, dengan 19 juta penduduk menderita gangguan emosional dan 12 juta menderita depresi. Data SKL tersebut mestinya menjadi indikator yang tepat dan urgen menjadi hal mendesak untuk diatasi di era digital saat ini. Sementara berdasarkan data lainnya yaitu data dari survei nasional, mengungkapkan kesehatan anak nasional mengungkapkan hampir 1dari 3 atau 31% remaja yang umumnya usia 12-17 tahun, mengalami masalah mental, emosional, dan perilaku. Terlihat dari data tersebut terdapat adanya peningkatan krisis kesehatan mental remaja di Indonesia saat ini secara drastis.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More