Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

Oleh: Apriska Stevi Pando, Siswi Kelas XII SMAS St. Gregorius Reo

Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat telah mengubah cara manusia berpikir, berinteraksi, dan memandang diri sendiri, terutama pada remaja sekolah menengah. Siswa SMP dan SMA berada pada fase transisi penting dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan, sehingga mereka sangat rentan terhadap pengaruh media sosial, permainan daring, dan arus informasi yang tidak terbatas. Dalam situasi ini, sekolah tidak boleh hanya berfokus pada pencapaian akademik semata. Justru, pendidikan harus turut memperhatikan kondisi psikologis siswa agar mereka mampu mengelola emosi, tekanan sosial, serta krisis jati diri yang kerap muncul di era digital. Terlebih lagi, kurikulum yang semakin padat dan tuntutan persiapan masa depan sering menjadi beban tambahan yang berpotensi memicu masalah kesehatan mental. Perhatian terhadap aspek psikologis siswa bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak dalam sistem pendidikan saat ini.

Pertanyaannya, apakah sistem pendidikan saat ini sudah benar-benar memperhatikan kesehatan psikologis siswa atau masih berfokus pada capaian akademik semata? Tentu sekarang ini kita sudah melihat realitanya. Pendidikan di sekolah menengah cenderung berorientasi pada capaian akademik dan nilai ujian. Kurikulum lebih menekankan penguasaan materi pelajaran seperti matematika, sains, dan bahasa.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More