Antara Papan Tulis dan Piring Nasi: Realita Nasib Guru Swasta dan Tambahan Anggaran Badan Gizi Nasional
Oleh Yakobus Gunardi Waret, Staf Pengajar di SMAS St. Gregorius Reo
Ini bukan sekedar persoalan angka; ini tentang manusia yang tugasnya mencerdaskan anak-anak dan membentuk masa depan bangsa, tetapi justru hidup dalam ketidakpastian kebijakan pemerintah dan ketidakpastian finansial. Guru-guru swasta sering kaliharus mencari pekerjaan sampingan, sebagai tukang ojek, jual makanan dan berbagai pekerjaan lainya hal ini mereka lakukan hanya untuk bertahan hidup diatas tututan ekonomi dan biaya pendidikan yang tinggi. Bagaimana kita mengharapkan kualitas pendidikan tinggi jika para pendidiknya sendiri kelaparan secara metaforis.
Bangun 7.000 Sekolah Era Presiden Prabowo Ancaman Atau Peluang Bagi Keberadaan Sekolah Swasta
Ditengan gempurang gerakan dan tuntutan dari guru-guru sekolah swasta tentang hilangkan diskriminasi terhadap mereka. Muncul wacana baru dari pemerintah yaitu program pembangunan 7.000 sekolah terintegrasi yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi dalah satu agenda utama dalam upaya memajukan pendidikan nasional. Konsep ini melibatkan pembangunan sekolah dari tingkat SD sampai SMA dalam satu kawasan yang wacananya lengkap dengan fasilitas modern seperti negara maju, termasuk asrama untuk siswa dari keluarga yang kurang mampu. Sekolah-sekolah ini akan dibangun pada 2026. Di tengah antusiasme ini, muncul pertanyaan: apakah inisiatif ini justru menjadi ancaman atau peluang bagi keberadaan sekolah swasta di indonesia?