Antara Papan Tulis dan Piring Nasi: Realita Nasib Guru Swasta dan Tambahan Anggaran Badan Gizi Nasional
Oleh Yakobus Gunardi Waret, Staf Pengajar di SMAS St. Gregorius Reo
Guru Swasta dan Harapan Tak Kunjung Terealisasi
Di penghujung tahun 2025 harapan atas tuntutan dari guru swasta terhadap pemerinta untuk hilangkan diskriminasi dalam hal seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dan harapan membuka formasi khusus guru-guru yang mengabdi di sekolah swasta rupanya masih suram dan tidak ada harapan. Upaya yang dilakukan oleh guru swasta baik melalui demonstrasi maupun melalui dialok terbuka dengan instansi pemerintah dan DPR hanyalah perjuangan yang sia-sia.
Mari kita melihat dari realita nasib guru-guru swasta. Di indonesia, ribuan guru swasta yang bekerja dengan gaji yang sering kali di bawah upah minimum regional ( UMR) bahkan kurang dari 1 juta per bulan. Dengan gaji ini mereka tidak hanya memikirkan mengajar tetapi juga menanggung biaya hidup dan ongkos sekolah anak-anak mereka baik yang masih Paud sampai perguruan tinggi. Ironisnya, saat angaran melimpah yang dibuat oleh pemerintah untuk program-program populis, kesejahteraan guru-guru swasta sering terlupakan. Misalnya, tuntutan kesejahteraan guru secara keseluruhan diperkirakan membutuhkan sekitar Rp. 178,7 triliun, tetapi pemerintah lebih sibuk mengalokasikan anggaran untuk sekror lain. Terlebih pada program Makan Bergizi Gratis yang mengelontorkan dan yang sangat besar.